Rabu, 24 Juni 2015

Budaya, Makanan, dan Ciri Khas Banjar

BUDAYA
Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba relegius. Disamping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.

Ikatan kekerabatanmulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan.

Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha.

Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar nampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transport, Tari, Nyayian dsb.

Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar seperti :

Teater Tradisi / Teater Rakyat
Antara lain Mamanda, Wayang Gung, Abdul Mulk Loba, Kuda Gepang, Cerita Damarwulan, Tantayungan, Wayang Kulit, Teater Tutur.

Seni Musik
Antara lain Kuriding, Karung-karung Panting, Kintunglit, Bumbung, Suling Bambu, Musik Tiup, Salung Ulin, Kateng Kupak.

Sinoman Hadrah dan Rudat
Sinoman Hadrah dan Rudat bersumber daripada budaya yang dibawa oleh pedagang dan penda’wah Islam dari Arab dan Parsi dan berkembang campur menjadi kebudayaan pada masyarakat pantai pesisir Kalimantan Selatan hingga Timur.
Puja dan puji untuk Tuhan serta Rasul Muhammad SAW mengisi syair dan pantun yang dilagukan bersahutan dalam qasidah yang merdu, dilindungi oleh payung (merupakan lambang keagungan dalam kehidupan tradisional di Indonesia) ubur-ubur, dalam gerakan yang dinamis.

Seni Tari

a. Tari Tradisi : Balian, Gantar, Bakanjar, Babangai
b. Tari Klasik : Baksa Kambang, Topeng, Radap Rahayu
c. Tari Rakyat : Japin Sisit, Tirik Lalan, Gambut, Kuda Gepang, Rudat dll

imagetarian surup dari Tanbu (MB)

Seni Sastra
Antara lain Kuriding, Karung-karung Panting, Kintunglit, Bumbung, Suling Bambu, Musik Tiup, Salung Ulin, Kateng Kupak.

a. Syair : Hikayat, Sejarah, Keagamaan

b. Pantun : Biasa, Kilat, Bakait
Seni Rupa
Antara lain Ornamen, Topeng dan Patung.

Keterampilan
Maayam dinding palupuh, maulah atap, wantilan, maulah gula habang, maulah dodol kandangan, maulah apam barabai, maulah sasapu ijuk, manggangan, maulah wadai, maulah urung katupat, maaym janur banjar, dll(sumb: situs her’s Site)

Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai bidang seni budaya.

‘Seni Tari’ Seni Tari suku Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama “Baksa” yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya :

Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung.
Tari Baksa Panah
Tari Baksa Dadap
Tari Baksa Lilin
Tari Baksa Tameng
Tari Radap Rahayu, dalam upacara perkimpoian
Tari Kuda Kepang
Tari Japin/Jepen
Tari Tirik
Tari Gandut
Tarian Banjar lainnya

Nih sumbernya bro

MAKANAN
Mungkin yang terkenal dari kuliner Banjar adalah Soto Banjar. Soto ini sendiri sebetulnya tak berbeda dengan soto dari daerah lain. Perbedaannya hanya mungkin pada kuahnya yang lebih bening jika dibandingkan soto lainnya. Selebihnya sama, ada lontong nasi, ada suiran ayam, irisan telur, korket (gaplak), dan taburan bawang goreng. Tapi, kalau sudah sekali nyoba, dijamin suka deh. Apalagi kalau ditambah dengan limau nipis.


Yang kedua ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang, bahkan di Kalsel sendiri sudah terkenal kemana-mana. Namanya Ketupat Kandangan. Tak seperti Soto Banjar, Ketupat Kandangan memunyai kuah yang keruh karena terdapat santan yang menambah cita rasanya. Selain itu ketupat ini ditambah ikan ataupun telur untuk menambah variasi lauknya. Perbedaan lain jika Ketupat Kandangan dibandingkan dengan ketupat yang biasa kita temui sehari-hari adalah nasi ketupatnya yang lebih keras. Namun hal itu bukanlah penghalang rasa, malah meningkatkan cita rasanya. Yang belum coba, wajib coba.

Patin Baubar, patin segar yang dimasak dengan tungku yang berasal dari bara api tempurung kelapa. Tentunya hal ini akan menjadikan aroma tersendiri dan emnambah cita rasa. Patin Baubar sangat cocok jika disajikan dengan nasi putih hangat dan Terong Baparung (terong yang dibakar di atas bara api dan dikasih santan). Ditambah sambal acan (sambal terasi), rasanya enak banget deh... Kalo kata orang bajar 'Nyaman Banar'.






Manday, makanan satu ini jadi salah satu makanan favoritku. Terbuat dari kulit tiwadak (cempedak) yang sangat lama diawetkannya. Cara pengawetannya dengan cara sederhana yaitu dengan garam (biasanya pakai uyah bacurai/garam tanpa yodium) dan didiamkan dalam suatu tempat tertutup yang rapat. Pengawetannya sendiri lamanya tergantung selera, semakin lama semakin asam rasanya semakin enak rasanya, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun. Manday sendiri bisa dimasak dengan digoreng ataupun dioseng-oseng dibuat menjadi Manday Batanak (ditambah santan dan ikan pepuyu kecil).



Nah, yang ini namanya Iwak Pakasam atau Iwak Basamu. Hampir sama dengan Manday dalam cara pembuatannya, tapi pembuatannya berbahan dasar Ikan Haruan (Ikan Gabus), Ikan Pepuyu, Ikan Mangki, dan Ikan Sepat. Pembuatannya yaitu ikan yang telah dibersihkan dan diberi garam seperi Manday, ikan diberi samu (beras yang disangrai dan ditumbuk halus namun masih berbentuk). Ikan didiamkan beberapa waktu, beberapa bulan bahkan tahunan, semakin lama semakin asin rasanya. Dimasak biasanya dengan bawang goreng.






Yang ini namanya Iwak Wadi. Pembuatannya sama persis dengan Manday yaitu pengawetan dengan menggunakan uyah bacurai (garam tanpa yodium). Tahan untuk beberapa tahun





Sumber lagi nih bro

CIRI KHAS
Sasirangan
Hasil gambar untuk ciri khas banjar sasirangan
Kain sasirangan banyak dibuat oleh pengusaha industri kecil di Kalimantan Selatan. Seperti halnya batik di Pulau jawa, kain sasirangan merupakan ciri khas daerah Kalimantan Selatan. Kain sasirangan adalah merupakan kain yang menerapkan proses pewarnaan dengan cara rintang yaitu dijahit menggunakan benang atau tali rafia menurut corak yang dikehendaki. Desain corak didapatkan dari jahitan atau dikombinasi dengan ikatan maupun komposisi warna yang dibuat. Kain sasirangan dapat dibuat dari bahan mori dengan berbagai kwalitas seperti mori primissima, mori prima, mori biru, mori voalissima, bahan sutera, rayon maupun synthetic.
Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel.
Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai ba
han kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.

Waduh sumber lagi nih bro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar